Jumat, 30 Desember 2016

Ateis Intelektual*

Oleh: Andriansyah**

“Kita bukan sedang belajar agama, jadi jangan bawa-bawa agama”, “Indonesia bukan negara agama, jadi jangan bawa-bawa agama”, “kalau bahas agama di masjid bukan di ruang kelas”. Lebih kurang seperti itulah kondisi agama dalam cara pikir yang sudah malfunction (kegagalan pemakaian) dari fitrahnya untuk memahami agama yang benar (Islam). Ketiadaan agama sama dengan ketiadaan Tuhan. tentu di zaman modern kalimat seperti diatas menjadi trending topics yang sering dibicarakan. Kalimat diatas menjadi alasan tepat mengesampingkan agama dalam ranah publik. Ibarat sabda suci, kalimat-kalimat di atas merupakan sebuah pembenaran untuk penyucian agama dengan memisahkannya dari ranah publik dan meletakkannya di tempat yang sangat strategis. Hasilnya, Agama bak aib yang enggan disebut di ranah publik kecuali di mesjid/mushalla. Pertanyaannya, tepatkah cara berpikir seperti itu?


Niat ingin menyucikan agama ke tempat tertinggi, berbanding terbalik dengan realita yang malah menempatkan agama di “pojok ruang” dan hanya digunakan ketika “ada maunya”. Menjadi ironi ketika hal ini dipraktikkan oleh muslim yang dikenal sebagai intelektual. Itulah salah satu tanda Muslim Keblinger. Barisan Muslim keblinger ini tidak akan segan-segan mengosongkan nilai agama dari ranah publik, apalagi dalam konteks bernegara. Dalihnya pun sangat mainstream, “kita ini bukan negara agama, tapi negara Pancasila”. Dalih seperti itu sudah tidak laku lagi, kecuali untuk muslim yang ikut-ikutan keblinger. Karena faktanya Indonesia bukan negara yang anti-agama dan Indonesia melindungi yang menjalankan agamanya dengan konstitusi UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 dan 2.

Peminggiran agama dengan alasan menempatkan agama di tempat khusus dan suci ini akhirnya menciptakan situasi dan kondisi menjadi tidak beragama dalam kondisi dan situasi tertentu. Pola pikir “ateis” ini yang entah secara sadar maupun secara tidak sadar telah memicu masalah keimanan serius bagi muslim. Prof Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan “Ateisme merupakan  salah satu gejala negatif besar dalam Islam” (Lihat: Prof Wan Mohd Nor Wan Daud. Krisis Otoritas, Ateisme, dan Ekstremisme. Jurnal Islamia Republika edisi 21 Juli 2016, hal. 18). Namun, perlu dipahami yang menjadi masalah serius dalam hal ini adalah mendadak “ateis” ini dilakukan tanpa sadar dan terus disebarkan dengan keyakinan bahwa dirinya merasa benar. Sebagaimana penyakit yang dirasakan manusia, wajar karena disadari dan bisa di obati, namun menjadi tidak wajar apabila sedang sakit tapi tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit. Bagi muslim, implementasi dari keimanan akan tercermin seiring dengan perbuatan maupun lisan. Maka salah satu kecelakaan iman yang sangat besar jika seorang muslim menjadi plin plan dalam beriman, terkadang beriman (saat di masjid) terkadang menjadi “ateis” (ketika diluar masjid).  

Memahami Ateis
Menarik disimak Ateisme menurut defini dari Julian Baggini dalam Atheism: A Very Short Introduction, Oxford, Oxford University Press, 2003, adalah “keyakinan bahwa tidak ada Tuhan atau dewa-dewa”, (Lihat: Irfan Habibie. Sains Ateis Dalam Kurikulum. Jurnal Islamia Republika, edisi 21 Maret 2013, hal.23) hal ini dalam kondisi sadar sangat tidak mungkin terjadi pada seorang muslim yang mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. Ketika menolak Tuhan otomatis menolak kebenaran dan kebaikan, begitu argumen awalnya. Namun, menurut Baggini menolak keyakinan akan adanya wujud Tuhan atau dewa-dewa tidak menjadi penghalang mempercayai moralitas. Menurut Baggini “tidak ada yang menghalangi ateis mempercayai moralitas, makna hidup dan kemanusiaan.”. Secara gamblang pola pikir seperti ini juga merupakan dasar pemisahan terhadap Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, lantaran berkeyakinan “bermoral tidak harus berTuhan”. Walhasil, nilai hidup dan moralitas  terpisah dari keimanan kepada Tuhan. Disinilah dimulainya fase-fase ateis-nisasi intelektual pada pemikiran. Agama dipraktekkan hanya di tempat tertentu dan waktu tertentu. Tidak semua ilmu berasal dari Tuhan. Akhirnya terbentuklah pola pikir Ateis Intelektual, berilmu tapi tidak beriman.

Akarnya? tentu saja tidak akan jauh dari pengaruh filsafat Materialisme-Sekularisme, filsufnya Francis Bacon (1620), John Locke (1704), Ludwig Feurbach (1872), Karl Marx (1883), dll. Ludwig Feurbach dalam The Essence of Christianity, 1989, menyatakan “prinsip filsafat yang paling tinggi adalah manusia.” (Lihat: Adnin Armas, M.A dan Dr. Dinar Dewi Kania. Sekularisasi Ilmu, dalam Dr. Adian Husaini, et. al. Filsafat Ilmu, GIP, 2013). Pemikiran yang menjadikan materi sebagai standar tolak ukur kebenaran ini akhirnya menjadi dasar menolak Tuhan dalam memandang dunia lantaran wujudnya tidak terbukti dengan materi. Menjadikan manusia sebagai sumber tertinggi pun akan berakhir dalam kebingungan, karena tidak adanya sebuah ketetapan pasti tentang segala hal.

Intelektual Ateis yang terpengaruh pemikiran menyesatkan ini biasanya disebabkan karena lemahnya dasar keilmuan Islam dan inferiority complex (tidak percaya diri). Merasa peradaban Barat yang kacau spiritualnya lebih unggul, silau terhadap kelimuan Barat dan dibutakan untuk melihat potensi Islam yang pernah berjaya mensejahterakan sepertiga bagian dunia. Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah mengatakan “pihak yang kalah akan mengikuti pihak yang menang”.
Yakin Dengan Islam

Dengan berpegang teguh pada prinsip “rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri” akan membuahkan pemikiran yang lebih mencintai keilmuan asing, bahkan bisa sampai mencaci keilmuan sendiri. Gempuran pemikiran menyesatkan ini juga terus tumbuh subur dengan iklim globalisasi. Melalui berbagai media, penanaman benih pemikiran berbahaya terus berlangsung. Secara sistematis, upaya untuk ateis-nisasi ini dapat ditemukan dalam buku-buku pelajaran sekolah. Dalam pelajaran Biologi, teori Evolusi Charles Robert Darwin (1882) yang menjelaskan asal usul manusia dari Kera dan teori alam semesta tercipta dengan sendirinya, tidak ada kaitannya dengan Tuhan pun masih diajarkan. Penanaman nilai-nilai materialisme-sekularisme, dan ateisme dalam ranah intelektual pendidikan ini lah yang menjadi pokok permasalahan hingga terbentuknya pola pikir ateis intelektual.
Jika keilmuan yang salah ini terus dipelihara, maka bukan tidak mungkin intelektual yang meminggirkan agama ini menjadi hal biasa. Dengan alasan “jangan bawa-bawa agama” akhirnya tidak beragama. Perlu di ingat masalah keimanan bukan seperti sandal yang bisa di lepas pasang, jika sudah bersyahadat maka harus konsisten mempertahankan, jangan melepasnya dimanapun dan kapanpun. Bahaya jika bisa menjadi ateis lantaran pemikiran keliru yang dipelihara. Karena itulah sebagai muslim, dalam berpikir dan berilmu harus melekat didalamnya keimanan kepada Allah SWT. Islam merupakan agama yang kaffah/menyeluruh (QS. Al Baqarah: 208) yang mengatur seluruh sendi kehidupan mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Sangat berbahaya jika muslim malu menunjukkan keislamannya di ranah publik. Tentunya kita tidak mau menjadi ateis. Maka, mulai sekarang sudah bisa diperbaiki pola pikir pemisahan agama dalam beberapa lini kehidupan. Kalau memang yakin Islam yang paling benar, yakinlah dengan ber-Islam secara benar dan menyeluruh hidup juga akan menjadi benar. Waullahu a’lambisshawab.


*Artikel ini pertama kali dimuat di Majalah Meutuah Diklat Edisi Juli-Desember 2016
**Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan, FISIP UNSYIAH, Banda Aceh.
Email: andrianrebel@gmail.com

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search