Minggu, 26 November 2017

Kritik Terhadap Kutukan kebebasan Jean Paul Sartre



Oleh: Jabal Ali Husin Sab

"J’seus condemn atre libre/man are condemned to be free. Manusia dikutuk untuk bebas." (Jean Paul Sartre)

PEMILIHAN kata condemned yang berarti dikutuk, dalam adagium terkenal dari tokoh eksistensialisme Perancis tersebut bukanlah hanya sebatas sensasi bahasa. Pemilihan kata “dikutuk”, “terkutuk” atau “kutukan” sepertinya dipilih untuk mengungkapkan keadaan alamiah atau keniscayaan yang sifatnya mutlak; yang berarti manusia secara alamiah mutlak bebas/merdeka.

Penggunaan kata condemned (dikutuk) jika diganti dengan destined (ditakdirkan) akan memberikan makna yang setara terhadap istilah tersebut: manusia yang memang (ditakdirkan) seharusnya bebas, sudah begitu adanya. Namun kata takdir berhubungan dengan siapa yang menakdirkan, tentulah Tuhan. Kata ini dalam bahasa apapun tidak terlepas pemahamannya dari ketentuan Tuhan atas ciptaannya. Konsep takdir sendiri dikenal dalam bahasa manapun sebagai sebuah ketentuan yang digariskan Tuhan kepada manusia.

Sementara kutukan seringkali berhubungan dengan hal atau nasib yang terjadi pada seseorang yang ditimbulkan dari manusia sendiri, atau pelanggaran atas hal-hal tertentu. Hal ini berhubungan dengan mitos dan takhayul di dalam cerita rakyat. Kutukan dalam cerita rakyat biasanya berakar dari ajaran animisme yang berhubungan dengan hukum alam semesta serta hal-hal yang terkait mitos dan takhayul dalam masyarakat yang belum mengenal konsep agama monoteis.

Penyematan kata kutukan atas pendapat Sartre tentang kondisi alamiah manusia yang melepaskan kebebasan di luar kehendak Tuhan, membuat kebebasan versi dirinya dan para pengikutnya berada dalam kerancuan makna kebebasan itu sendiri. Eksistensialisme bagi Sartre merupakan sebuah gerakan perlawanan yang menggugat esensi (hakikat hidup) manusia dan segala tujuan dalam hidup yang telah ditentukan sebelumnya, baik oleh agama maupun oleh filsafat.

Menggugat Modernitas
Eksistensialisme juga menggugat modernitas, di mana manusia dipaksa untuk masuk ke dalam tatanan nilai dan norma kolektif yang membelenggu. Manusia modern, bagi kaum eksistensialis, hidup dalam jeratan rutinitas di mana ia tidak berkesempatan untuk menggali kesadaran akan kemanusiaannya. Hidupnya begitu statis dalam pilihan-pilihan yang sudah lebih dulu diatur. Ia menggugat kebebasan dirinya dalam menentukan tatanan nilai dan norma sendiri oleh dirinya sendiri sebagai bentuk kesadaran akan kehendak dirinya, eksistensi mendahului esensi.

Kaum eksistensialis ingin membebebaskan manusia dari fungsi dan tujuan apapun yang di luar kehendak dirinya. Berbeda misalnya dengan kompor yang diciptakan dengan tujuan untuk memasak, bagi kaum eksistensialis, manusia lahir tanpa ada yang memberikan hakikat tujuan penciptaan dirinya kecuali dirinya sendiri. Tentunya pendapat ini disimpulkan karena mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan yang menciptakan manusia atas tujuan tertentu.

Bagi Sartre, manusia memberikan makna atas dirinya melalui tindakan-tindakannya dengan tujuan yang berasal dari dirinya sendiri dalam proses kehidupan. kehendak diri menjadi panduan dalam memaknai kehidupannya. Dalam pandangan eksistensialis, seseorang tidak bisa menyalahkan kesalahan orang lain dari pilihan-pilhan hidup yang diambil yang didasarkan pada tujuan yang ia tentukan. Kehendak liar untuk bebas telah menjadi panduan dalam menentukan jalan kehidupan bagi Sartre.

Kebebasan yang tak terkontrol seringkali membuat manusia tidak bertanggungjawab atas nikmat hidup yang ia miliki. Di masa muda, seseorang menganggap minuman kerasa dan ganja baik bagi dirinya. Namun di masa tertentu ia akan menerima konsekuensi logis dari kebiasaan buruknya yang misalnya merusak kesehatannya, selain masalah moralitasnya yang sudah tentu terganggu. Namun bagi kaum eksistensialis, pilihan masa mudanya itu tidak bisa disalahkan karena dirinya adalah mutlak miliknya sendiri.

Pada kondisi tertentu setelah memilih jalan hidup untuk mabuk-mabukan tadi, seseorang akan merenungi nasibnya atas konsekuensi yang didapatnya. Ia kembali harus merenungi hidupnya dan memikirkan kembali tujuan hidupnya. Seringkali semuanya telah terlambat, ia telah mengawali hidupnya dengan dalih kebebasan kehendak untuk merusak dirinya dan membuat kondisi kehidupannya tidak bahagia dan berdampak pada kehidupan barunya dengan tujuan hidupnya yang baru.

Manusia jenis ini terjebak pada keterbatasan dirinya dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai tolak ukur. Sementara pikirannya terbatas pada pengetahuan yang ia miliki, terikat pada ruang, lingkungan, waktu dimana ia berada, terlebih lagi ia terjebak pada kehendak nafsu atas kenikmatan-kenikmatan sesaat.

Tujuan Penciptaan
Sementara bagi umat Islam yang percaya akan keberadaan Tuhan dan mempercayai wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, mengetahui hakikat penciptaannya di muka bumi melalui wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw, sebagaimana firman-Nya: “Tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah (Allah).” Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Jadi, kalam Allah menyiratkan pengetahuan tentang identitas manusia sebagai abid yaitu hamba sekaligus khalifah (pemimpin).
Untuk itu, segala panduan kehidupan dan apa-apa yang harus dijalankan manusia dalam kehidupan ini serta untuk menyingkap segala rahasia pencipataan dan rahasia Sang Pencipta berada di dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Serta perkataan, perbuatan dan suri teladan yang ada pada Nabi saw juga merupakan panduan bagi manusia dalam menemukan esensi penciptaannya sekaligus panduan bagi tujuan penciptaannya di muka bumi.

Dengan ilmu pengetahuan yang telah diberikan padanya, manusia diberikan kehendak dalam menentukan ruang kebebasannya. Allah memberikan pilihan (ikhtiar) bagi manusia untuk memilih mana yang baik dan yang buruk. Bagi manusia yang mempunyai kesadaran tentang hakikat kehidupan, ia tahu bahwa kehendak Tuhan adalah yang terbaik bagi dirinya. Ia senantiasa memanfaatkan ruang kebebasan (ikhtiar) dengan menyelaraskan antara kehendak Tuhan didalam wahyu dengan akalnya, sehingga ia mendapatkan keselamatan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Ketaatan manusia kepada Allah Swt lahir dari ilmu yang memberikan pengetahuan serta kesadaran tentang hakikat dirinya sebagai manusia. Sementara penentangan terhadap Tuhan dan pemaksaan kehendak diri adalah bawaan naluriah dari seorang rational animal yang gagal menyingkap tabir pengetahuan. “Terkutuk untuk bebas” dianggap sebagai sebuah keniscayaan manusia yang sadar akan keberadaan dirinya. Kutukan bagi manusia yang sebenarnya adalah kehendak liarnya, kehendaknya yang tak pernah ia pahami.

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Serambi Indonesia.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search